Sindikat Pencuri Pulsa Via Internet Terbongkar Polisi!

Polisi Resor Kota Tasikmalaya Jawa Barat membongkar sindikat pencuri lewat internet. Modus para pelaku tergolong canggih yang melengkapi fasilitas cyber hingga mampu membuka pin orang lain.

Kasus bermula ketika Heri gunawan, 35 tahun, pemilik konter pulsa di Jl. Ahmad yani Kelurahan Lengkong Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya melaporkan hilangnya pulsa elektronik miliknya ke polisi. Heri mengaku kaget, ketika mendapati pulsa elektrik miliknya raib sekitar Rp 1 juta.

Heri menelusuri ke pihak operator. Ternyata, pulsa itu sudah mengalir ke tiga nomor yang berbeda. “Jelas saya kaget ketika saya cek pulsa, pulsa ini berkurang Rp 1 juta,” kata Heri.

Kejadian ini berulang, beberapa hari kemudian. Kali ini, jumlahnya mencapai Rp 6,5 juta dan menguras stok pulsa elektronik dagangan milik Heri di konternya. Ia kembali mengecek ke operator, dan didapati, pulsa dikirim ke beberapa nomor di Bandung. “Saya lapor ke polisi” kata Heri.

Polisi akhirnya menelusuri dan menemukan, pelakunya adalah Nopi Sopian, 25 tahun, warga Jl. Ir. H Juanda Kelurahan Dago Kecamatan Coblong Bandung. Akhir pekan lalu, Nopi dicokok.

Kasus ini, kata Kepala Satuan Reskrim Polresta Tasikmalaya, Ajun Komisaris Polisi Harso Pudjo Hartono adalah yang pertama terjadi di Tasikmalaya. Pelakunya dianggap telah lihai menguasai jaringan cyber ini. “Soalnya tak sembarang orang yang bisa mengakses oprator seluler tanpa memiliki chip atau nomor pin,” ujar dia kepada Tempo Rabu (17/3).

Menurut Harso, modus yang dilakukan tersangka yakni dengan mengacak dan mengutak-atik nomor pin rahasia operator pulsa. Dimulai dari Dealer pulsa, kemudian sub-deler pulsa hingga retail (kios pulsa). Karena sistem pengamanan di retail yang masih lemah ini, maka akhirnya pelaku bisa membobolnya. “Kios Heri masih menggunakan pin standar, sehingga pelaku mudah mengaksesnya,” kata Dia.

Setelah penangkapan, meskipun pelaku meski telah mengeruk uang Rp 7,5 juta dari korban, namun Nopi tidak pernah mempergunakan pulsa ini secara pribadi. Dirinya mengaku pulsa elektronik yang ia ambil dimasukkan dalam 3 buah nomor perdana yang kemudian dijual kepada temannya.

Harga satu perdana ini hanya dijual Rp 100.000 saja, padahal berisi pulsa hampir Rp 2 juta. Sehingga dikatakan Harso, keuntungan yang dimakan pelaku hanya sekitar Rp 300.000 saja, itu dari hasil penjualan kartu perdana berisi jutaan rupiah.

(Tempo)

%d blogger menyukai ini: